Ada yang hal yang lucu menurutku
seminggu yang lalu. Setelah sekian lama tak melihat ayah mengenakan sepatu sendiri, pagi itu ayah
mencoba memasang sendiri kaos kaki di kakinya. Aku melihat ayah menggunakan
kaos kaki layaknya anak berumur tiga tahun yang sedang belajar mengenakan kaos
kaki. Lucu bukan, seorang lelaki paruh baya mengenakan kaos kaki seperti anak
berumur tiga tahun, saat itu aku tak berhenti tertawa, sampai perut dan pipiku sakit. Urusan memakai sepatu
mungkin ini hal biasa bagimu kawan, tapi tidak untukku. Dua puluh tiga tahun
berjalannya pernikahan ayah dan ibu, selama itu pula ayah tak lagi pernah
menggunakan sepatu dengan tangannya sendiri. Bukan. Bukan karena ayah malas,
bukan juga karena ayah tak lagi mampu menggunakan sepatunya sendiri. Tetapi ini
semua karena ibu.
Rabu, 20 Juni 2012
Rabu, 16 Mei 2012
Ali
Jelas ini bukan untukmu
ataupun engkau
Tapi ini untuk hati yang
tak sekuat Fatimah Az Zahra
Untuk hati yang kian
terkikis dengan luka menganga
Menggores jingga di atas
merah luka
Hm, untuk hati yang kian
meringis
Aku titipkan doa kekuatan
jiwa
Bukan tanpa kata apalagi mantra
Cukup paradoks dialog hati dengan pencipta
Dengar, biarkan nanti Ali menemukan
Seonggok hati tanpa goresan jingga di merah tanpa luka
Sabtu, 12 Mei 2012
Melebihi Mantra
Kelak jiwa bertemu sukma tanpa mengaduh
Memberi rindu bercanda membersamai peluh
Ah, andai kata mampu melebihi mantra
Tak akan aku sampirkan cinta yang kian merana
Bersama hujan yang kian mengiba
Wahai hati yang kian berjarak
Ini bukan luka derita yang kian menganga
Bukan pula surga bersandarkan makna
Tapi ini kata yang tak mampu melebihi mantra
Jumat, 04 Mei 2012
Selasa, 01 Mei 2012
malang
Ini bahkan bukan goresan penuh
tipu daya kegalauan
tapi memang sebuah pengakuan bahwa cinta memang tak tahu diri
malang nian hati, ah andai kau bernyawa melebihi kata
mungkin muak kian merajai kata yang akan kau sampirkan
pada jiwa-jiwa yang terhamba pada cinta yang betul-betul tak tahu diri
Langganan:
Postingan (Atom)