Selasa, 31 Juli 2012

Kepemimpinan dalam perspektif Visi PPSDMS


Dr. Musholi yang merupakan ideolog atas berdirinya institusi PPSDMS ini, tentu saja memiliki visi yang jelas untuk institusi yang akan dibesarkannya. Beranjak dari ketertarikannya mengenai tiga sektor kehidupan, membuatnya memiliki visi yang jauh ke depan untuk dapat memanfaatkan optimalisasi nilai-nilai PPSDMS di segala sektor. Adapun ketiga sektor yang sekiranya menjadi titik bidik dari yang telah beliau rumuskan adalah economy society, political society, dan civil society. Tak sekadar membidik sasaran, ia juga membuat Grand Strategy Dakwah  yang diejawantahkan melalui ketiga sektor tersebut.
Grand Strategy Dakwah itu terbagi atas mobilitas vertikal dan mobilitas horizontal. Dari strategi mobilitas vertikal diharapkan kader dakwah dapat mempengaruhi, merumuskan, menerjemahkan nilai-nilai islam dalam kebijakan publik. Sedangkan dari segi mobilitas horizontal, ia berharap kader dakwah untuk dapat menyiapkan masyarakat agar dapat menerima manhaj Islam. Dengan begitu, strategi tersebut diharapkan mampu diarahkan pada ketiga sektor kehidupan tersebut dan berusaha untuk memberikan perbaikan bagi masa depan kepemimpinan Indonesia. Tak hanya berhenti pada kerangka paradigma itu, ia juga menjelaskan catur dasa karya yang merupakan indikator keberhasilan dari visi yang ia tawarkan.

Transformasi Paradigma


Peserta PPSDMS adalah orang-orang yang telah mengikuti serangkaian tes dan terpilih dari ratusan peserta terbaik yang mendaftarkan diri pada institusi ini. Peserta PPSDMS yang terpilih diharapkan merupakan orang-orang terbaik yang memiliki kemampuan luar biasa untuk berkontribusi bagi negara dan agama ini. Untuk menjadi peserta PPSDMS, terdapat beberapa poin yang harus dimiliki agar terciptanya karakter peserta PPSDMS yang ideal. Adapun karakter tersebut bukanlah semata-mata tuntutan yang menjadi beban namun sesuatu hal yang harus melekat pada diri pesert PPSDMS.
Menurut Dr. Arief Munandar, peserta PPSDMS haruslah aktivis dakwah yang shalih dan kuat. Aktivis dakwah yang memiliki karakter shalih dan harus melekat pada diri peserta PPSDMS adalah pribadi yang senantiasa memperbaiki dirinya setiap waktu untuk menjadi lebih baik, begitu juga dengan karakter aktivis yang kuat, merupakan pribadi yang tangguh sehingga tahu pasti apa yang menjadi tujuan atas apa yang dilakukannya dan disertai tanggung jawab. Menjadi aktivis dakwah yang kuat pun tak hanya setengah-setengah, kuat dari segi fisik maupun mental adalah sebuah keharusan yang idealnya dimiliki oleh peserta PPSDMS. Kuat mental ditandai dengan sudah selesainya ia dengan diri sendiri, sedangkan kuat fisik ditandai dengan semua waktunya habis digunakan untuk kepentingan umat.

Hukum Perubahan


Allah telah memberikan peringatan dalam QS. Ar Ra’du ayat 11 yang berbicara tentang usaha akan sebuah perubahan yang diupayakan. Menurut Bachtiar Firdaus, jika kita menjadi seseorang yang tidak akrab dengan perubahan maka bersiaplah akan tertinggal. Edangkan perubahan adalah sebuah keniscayaan. Hal itu terlihat melalui manusia dengan perangkat indera, tanda-tanda dan arahan perubahan melalui serangkaian cerita historis yang dijelaskan Allah melalui ayat-ayatnya, serta ditemukannya pola ulangan ari setiap gerakan kehidupan manusia.
Perubahan sendiri seyogyanya harus dipahami secara keseluruhan, bukan setengah-setengah. Pemahaman terhadap prinsip perubahan harusnya menyeluruh sehingga kita dapat memaknai perubahan dengan cara yang lebih baik. Pemahaman prinsip perubahan itu sendiri yaitu :
  1. Sesungguhnya segala yang berubah dan terus berkembang adalah gejala atau fenomena, karena ia merupakan dampak dari proses interaksi dan kreasi antarmanusia yang melibatkan aspek material, teknis, dan organisatoris.
  2. Substansi dari dinamika itu adalah tetap, yaitu refleksi dari keadaan akal dan jiwa manusia yang tidak pernah berubah
  3. Hukum atau kaidah perubahan itu tetap atau konstan.

Kepemimpinan Profetik


Kepemimpinan profetik bukanlah merupakan kepemimpinan biasa, tetapi merupakan parade panjang atas kepemimpinan para nabi. Sehingga menjadi jelas jika objek yang diteladani kepemimpinannya adalah para Nabi. Lalu mengapa para Nabi? Tak cukupkan kepemimpinan Rasulullah yang kita teladani? Tentu saja bukan karena kisah Rasul tak mencukupi rasa keingintahuan kita akan kepemimpinan, tetapi karena Allah mengisahkan berbagai kisah kepemimpinan nabi di dalam Al Quran yang tentu saja dipercaya kebenarannya.
Kepemimpinan profetik dianggap sebagai pembebas peradaban. Hal ini merujuk pada konsep yang diutarakan oleh Alm. Prof. Dr. Kuntowijoyo yang mengatakan bahwa kepemimpinan profetik membawa misi humanisasi, liberalisasi, dan transendensi yang kesemuanya merupakan misi pembebas peradaban. Ketiga misi tersebut tak terlepas dari firman Allah dalam QS. Ali Imron : 110.
  1. Ta’muruna bil ma’ruf (misi humanisasi) : memanusiakan manusia dan mengangkat harkat derajat hidup manusia
  2. Tanhauna ‘anil munkar ( misi membebaskan) : membebaskan manusia dari keterpurukan dan ketertindasan
  3. Tu’minuna billah (misi transendensi) : manifestasi dari misi humanisasi dan liberalisasi yang diartikan sebagai kesadaran ilmiah)

Rabu, 20 Juni 2012

Memakai Sepatu


          Ada yang hal yang lucu menurutku seminggu yang lalu. Setelah sekian lama tak melihat ayah  mengenakan sepatu sendiri, pagi itu ayah mencoba memasang sendiri kaos kaki di kakinya. Aku melihat ayah menggunakan kaos kaki layaknya anak berumur tiga tahun yang sedang belajar mengenakan kaos kaki. Lucu bukan, seorang lelaki paruh baya mengenakan kaos kaki seperti anak berumur tiga tahun, saat itu aku tak berhenti tertawa, sampai  perut dan pipiku sakit. Urusan memakai sepatu mungkin ini hal biasa bagimu kawan, tapi tidak untukku. Dua puluh tiga tahun berjalannya pernikahan ayah dan ibu, selama itu pula ayah tak lagi pernah menggunakan sepatu dengan tangannya sendiri. Bukan. Bukan karena ayah malas, bukan juga karena ayah tak lagi mampu menggunakan sepatunya sendiri. Tetapi ini semua karena ibu.