Senin, 03 Desember 2012

Belajar dari Ibunda Yoyoh Yusroh

Ustadzah Zainab                         
Sabtu, 24 November  2012/ Pukul 10.00—12.00


 Kamu adalah umat terbaik yang diciptakan Allah di muka bumi (QS. Al Imron: 110)
Ayat di atas bukan tanpa alasan difirmankan oleh Allah, ayat di atas merupakan sebuah motivasi bagi kita untuk dapat melakukan yang terbaik dan menjadi yang terbaik pula dalam segala aktivitas. Keniscayaan menjadi umat terbaik adalah mutlak bagi kaum muslimin karena Allah sendirilah yang mengatakannya. Umat yang terbaik yang dimaksud di sini adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang maupun lingkungan di sekitarnya. Selain bermanfaatpun, kita juga harus mampu menjadi muslim yang kuat karena muslim yang kuliah lebih dicintai Allah dibandingkan muslim yang lemah. Kita sebagai muslimah, mungkin bisa belajar dari ibunda Yoyoh Yusroh. Karakteristik istimewa ibunda Yoyoh Yusroh yang patut diteladani antara lain memiliki fisik yang kuat, kesabaran tanpa batas, selalu aktif bergerak dan berkarya, kulaitas ruhiyah yang tinggi, selalu berusaha menyayangi dan peduli.
Fisik yang kuat, kekuatan fisik yang dimiliki Ibunda Yoyoh selama beraktivitas dapat dilihat dan dirasakan karena kedekatannya kepada Allah. Beliau bisa kuat secara fisik karena beliau selalu meminta pertolongan Allah untuk selalu dikuatkan, lebih dari itu ia meyakini bahwa kekuatan itu datangnya dari Allah. Selalu bersedia berjuang baik dalam keadaan berat maupun ringan, suka ataupun tidak suka. Senantiasa berhusnudzan dan selalu disertai upaya untuk menjaga kesehatan dengan mempercayai apa yang direkomendasikan Al Quran dan Sunnah, misalnya dengan mengonsumsi tiga makanan sehat, yaitu madu, jintan hitam, dan

Puisi

Nila Rahma                          
Kamis, 1 November 2012/ Pukul 20.00—22.00

 Puisi dibangun dengan jiwa dan itu terasa dalam setiap kata yang ada dalam puisinya
Pada diskusi sastra kali ini, kak Nila Rahma mengajak kami untuk menonton video deklamasi puisi oleh WS. Rendra dengan puisinya yang berjudul “Sajak sebatang Lisong”.  Puisi ini bertemakan kondisi sosial pendidikan yang terjadi di negeri ini pada masa itu.  Melalui puisinya itu, WS. Rendra berusaha untuk menyindir dan mengkritik keadaan sosial.
WS. Rendra yang memiliki nama asli Willi Brodus Surendra Broto merupakan adik kandung dari Ardi Kurdi, pemeran Abah dalam serial Keluarga Cemara. WS. Rendra merupakan seorang pemuisi dan penyair, lebih dari itu ia juga merupakan seorang dramawan. Ia memiliki bengkel teater yang menjadi tonggak penggiat drama pada masa itu. Dalam proses kreatifnya, Rendra membuat puisi pada masa trance. Ia telah menghasilkan begitu banyak karya dan menjadi salah satu pujangga yang cukup diperhitungkan dalam khazanah sastra Indonesia. Kritik yang dituangkan dalam puisinya dibuat bukan sekadar kritik belaka. Ia membuat sebuah riset tertentu sebelum pada akhirnya menghasilkan puisi sehingga karyanya bukanlah karya spekulatif.

Syumuliatul Islam

Ust. Musholli (Direktur PPSDMS Nurul Fikri)
Jumat, 16 November 2012/ 05.00—07.00

Tragedi utama bagi kaum muslimin saat ini adalah
 krisis pemikiran yang terkadang melebihi kesadaran hati nurani

Kajian kali ini dimulai dengan sebuah cerita mengenai KIK yang dilakukan oleh Bang Purba dan teman-teman yang berada di Korea. Berbagai kesan dan pesan mereka rasakan, belum lagi kerinduan akan KIK bersama pak Musholi terbayar sudah. Mereka sangat menikmati hari-hari bersama Pak Musholi. Terlihat dari berbagai komentar dan foto yang terdapat dalam slide yang ditampilkan oleh Pak Musholi selama kajian.
Islam adalah agama yang komprehensif, yaitu harus bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, tampak dalam diri kita di setiap tingkah laku dan perbuatan. Namun sayangnya saat ini, nilai-nilai Islam yang luar biasa baik itu tertutupi oleh perilaku umatnya yang jauh dari nilai-nilai islam. Justru kita sering melihat nilai-nilai islami di negara yang mayoritas penduduknya bukan penganut agama islam. Rukun ihsan tidak banyak dipelajari namun implementasinya sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sabtu, 01 Desember 2012

“Impossible is Nothing”

Jend. (Purn) TNI Endriartono Sutarto (Mantan Panglima TNI)
Kamis, 15 November 2012/ 08.15—10.00

Kebijakan atau keputusan yang kita lakukan tidk mungkin menyenangkan hati semua orang

Beliau dan Anies Baswedan dalam sebuah perbincangan pernah berharap pemimpin bangsa ini tak hanya sekadar mampu untuk memimpin, tetapi juga mampu untuk menginjak bumi sehingga kebermanfaatannya kian terasa. Mahasiswa masa kini biasanya terkungkung pada kehidupan kota yang penuh kegemerlapan sehingga dikhawatirkan lupa akan kehidupan di luar sana. Oleh karena itulah beliau bersama Anies dan teman-teman berusaha membuat gerakan dimana mahasiswa mampu mentransfer ilmunya kepada anak-anak di daerah-daerah tertinggal di Indonesia. Tujuannya adalah bagaimana para sarjana yang freshgraduate  ini mau merelakan waktu satu tahunnya untuk berbagi dengan orang lain serta meningkatkan pendidikan Indonesia itu sendiri dari ketertinggalan. Selain itu beliau juga mendirikan Gerakan Indonesia Setara dengan tujuan mendidik anak-anak jalanan dan putus sekolah.
Sebagai seorang purnawirawan TNI, beliau mendapatkan banyak hal di sana. Salah satunya adalah kepemimpinan. TNI memiliki sistem pembinaan yang terukur, memiliki sistem untuk mengalami rotasi kepemimpinan, terbiasa menghadapi konflik, serta adanya kesinambungan kepemimpinan. Oleh itulah saya belajar banyak, selain juga melalui pengalaman yang didapatkan selama menjadi  Jendral TNI. Pengalaman berkutat sebagai TNI antara lain pada tahun 1997—1988 sebagai komandan Paspampres. Di tengah ricuhnya kondisi politik pada masa akhir kepemimpinan rezim Soeharto, beliau tetap mempertahankan intregritasnya dengan berusaha penuh bertanggungjawab sebagai komandan kala itu dengan mengamankan presiden dan mengesampingkan kepentingan pribadinya. Pada masa kepemimpinannya di TNI, ia banyak membuat inovasi dalam sistem, seperti mendorong industri manufaktur persenjataan TNI untuk memenuhi kebutuhan. Beliau pernah mencetuskan ide pembuatan senapan yang memiliki bobot tidak lebih berat dari M16 tetapi memiliki tingkat akurasi yang lebih akurat serta mendorong perusahaan dalam negeri untuk membuatnya.

Selasa, 20 November 2012

Syumuliatul Islam

Ustadz Muholli, Kamis/ 15 November 2012/ 05.00—07.00

Sesungguhnya orang-orang yang mengatahan : “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan :”Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Fussilat: 30—32)

Ayat di atas berbicara bahwa orang-orang yang istiqomah berusaha tetap berpendirian dalam keislaman, keimanan, dan keikhlasannya karena meyakini kepastian dan kebenaran janji Allah. Namun yang jadi permasalahan pada dimensi saat ini adalah tidak bisa kita melihat dan merasakan hal-hal yang gaib sehingga tidak semua jiwa mampu menggapainya. Manusia amat cenderung pada sesuatu yang nyata apalagi hal itu mendatangkan suatu keuntungan yang dekat. Oleh karena itulah, bagi kaum muslimin rukun iman menjadi suatu pondasi, dasar berpijak dalam membangun keislaman kita. Hal inilah yang membuat kita meyakini dimensi yang berbeda yang harus kita yakini.