Rabu, 16 Mei 2012

Ali


Jelas ini bukan untukmu ataupun engkau
Tapi ini untuk hati yang tak sekuat Fatimah Az Zahra
Untuk hati yang kian terkikis dengan luka menganga
Menggores jingga di atas merah luka
Hm, untuk hati yang kian meringis
Aku titipkan doa kekuatan jiwa
Bukan tanpa kata apalagi mantra
Cukup paradoks dialog hati dengan pencipta
Dengar, biarkan nanti Ali menemukan
Seonggok hati tanpa goresan jingga di merah tanpa luka



Sabtu, 12 Mei 2012

Melebihi Mantra


Kelak jiwa bertemu sukma tanpa mengaduh
Memberi rindu bercanda membersamai peluh
Ah, andai kata mampu melebihi mantra
Tak akan aku sampirkan cinta yang kian merana
Bersama hujan yang kian mengiba
Wahai hati yang kian berjarak
Ini bukan luka derita yang kian menganga
Bukan pula surga bersandarkan makna
Tapi ini kata yang tak mampu melebihi mantra

Jumat, 04 Mei 2012

kelak


Kelak akan kutemukan yang tak sebatas kata :)

Selasa, 01 Mei 2012

malang


Ini  bahkan bukan goresan penuh tipu daya kegalauan
tapi memang sebuah pengakuan bahwa cinta memang tak tahu diri
malang nian hati, ah andai kau bernyawa melebihi kata
mungkin muak kian merajai kata yang akan kau sampirkan
pada jiwa-jiwa yang terhamba pada cinta yang betul-betul tak tahu diri

Senin, 06 Februari 2012

Senja di Kampus (Tugas Penulisan Populer)



                Senja tetap setia menggelayut di langit kampus, tak pernah mengkhianati waktu seakan hendak memberi sebuah harapan bagi yang memandang. Matahari tak lagi tegak di atas kepala, kian condong, ke barat tentunya karena ia tak akan mengkhianati titah Tuhannya. Segores mega senantiasa setia menemani senja yang menggelayut manja persis di langit kampus. Membuat langit tak lagi sejuk dengan birunya, namun indah dengan jingganya. Jingga yang sama saat pertama kakiku menjejak di sini, di hamparan rumput hijau di tepian danau. Sudut favorit untuk menikmati hari-hari perjuangan di kampus ini.
                Klaster, kelas terbuka. Sudut kampus yang tak pernah alpa ku kunjungi selain kelas-kelas bisu penuh ilmu. Sama seperti senja ini dengan senja-senja sebelumnya, aku sempatkan diri untuk menikmati senja di kampus. Aku duduk beralaskan hijaunya rumput -sedikit basah bekas gerimis yang amat sebentar- persis di pinggiran klaster. Posisi terbaik memandang danau yang memisahkan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya dengan Fakultas Teknik. Tentu saja ada sebuah pohon rindang yang menaungi tempat dudukku saat ini, memberikan keteduhan serta menambah ketenangan ketika memandang riak-riak danau yang kian memanjang.