Minggu, 06 Februari 2011

Hanya Allah yang tahu


        Seperti yang telah saya dengar dari banyak orang, bahwa jodoh, rizki, dan kematian sejatinya hanyalah Dia yang Maha Mengetahui. Allah lah yang telah mengatur dan menuliskan semua dalam takaran yang pas dan tak terlewat sedikitpun. Allah telah menuliskan seluruh catatan mengenai berbagai macam hal tersebut dan menetapkannya tanpa ada seorangpun di dunia ini yang mampu meramalkan atau bahkan mengetahuinya.
          Beberapa hari ini berita tentang kematian seolah sedang menjadi perbincangan yang menghiasi siaran-siaran di televisi. Mengingat ada seorang tokoh bangsa ini yang telah dipanggilnya dengan terkesan mendadak. Hm, tidak hanya itu, saya sekeluargapun dikejutkan dengan berita wafatnya Pakde (kakak dari ibu saya) secara mendadak dan begitu tiba-tiba. Saya  memang kurang begitu dewasa dalam menyikapi kematian. Mengingat, inilah kali kedua saya mengalami sendiri bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayangi, setelah setahun yang lalu nenek saya yang wafat.
          Mengapa saya kurang dewasa dalam menyikapinya? Sedari kecil saya tak pernah menjumpai berita tentang kematian keluarga terdekat. Saat lulus dari SMA saya baru mengalaminya dan baru bertambahlah pendewasaan diri saya mengenai kematian sejak saat itu. Seharusnya saya tidak boleh kekanak-kanakan. Namun itulah kenyataannya, kepergian pakde menorehkan kepedihan mendalam bagi diri saya pribadi. Kematian memang begitu misterius. Siapa yang menyangka justru kakek saya yang telah bolak-balik masuk Rumah Sakit karena penyakit jantung yang dideritanya dan sampai kini masih sehat walafiat diusianya yang hampir 90 tahun. Justru keluarga besar kami dikejutkan dengan wafatnya pakde, yang secara catatan medis, memang tidak memiliki penyakit kronis dan selama ini terlihat sangat sehat dan segar. Wafatnya pakde membuat banyak orang terpukul. Namun itulah kematian, tak ada yang dapat menghindarinya meski di balik tembok tebal sekalipun.
          Sedikit mengingat tentang pakde, beliau adalah sosok pekerja keras yang tak mengenal lelah. Dulu beliau sempat tinggal bersama keluarga saya di Jakarta karena beliau mendapat pekerjaan di sini. Beliau adalah sosok yang sangat perhatian kepada kami (keponakan-keponakannya). Setiap beliau mendapatkan uang, beliau tak akan lupa untuk memberikan sebagiannya kepada kami. Beliau orang yang periang yang sangat menyayangi kedua orangtuanya. Teringat cerita dari nenek, bahwa malam sebelum beliau wafat, seperti biasa nenek menunggunya di rumah. Karena telah menjadi kebiasaan beliau untuk mampir ke rumah orangtuanya sepulang kerja untuk sekedar membawa apapun yang menurutnya pantas untuk diberikan kepada orangtuanya. Namun malam itu, tak seperti biasanya, pakde tak berkunjung. Dan esok hari kami di kagetkan dengan berita kematiannya.
          Terakhir kali saya bertemunya di rumah sakit dua bulan yang lalu. Saat saya pulang ke kampung dan menunggui kakek saya yang di opname di sana karena pembengkakan jantung. Kala itu, kakek saya menanggap dirinyalah yang akan lebih dahulu meningggalkan keluarga besarnya yang amat menyayanginya. Waktu itu adalah saat terakhir saya bertemu dengan pakde, mencium tangannya, dan memandang wajahnya. Hm, semoga engkau tenang di sana ya pakde…
Kematian memang sebuah kepastian. Seperti yang telah dikemukakan Allah dalam Al Quran :
        "Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu  tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya." (QS. Al Baqarah :2)
kita akan kembali kepadaNya, menemuiNya dengan segala catatan amal perbuatan selama kita hidup di dunia. Dunia yang menjadi tempat singgah terkadang bergeser posisinya menjadi tempat seolah-olah kita akan hidup abadi di dalamnya. Semoga apa yang telah terjadi mampu menjadi hikmah yang membuat kita tersadar untuk segera mempersiapkan segala amalan terbaik untuk menyambut kematian yang kita sendiri tak akan pernah tahu kapan waktunya. Dan semoga kita mampu bertemu denganNya dalam keadaan terbaik yang seluruh penduduk langit dan bumi menyambut kematian kita dengan tasbih yang senantiasa terucap. aamiin

         

2 komentar:

marogi mengatakan...

:-(

Goresan Pelangi Kehidupan mengatakan...

kenapa gi? mohon doanya ya...